Rabu, 11 Februari 2015
Cinta Monyet Anak Rohis
Ya Allah berkahilah tulisa ini dan pembacanya –aamiin
Titik air dari langit yang jatuh datang begitu cepat dari yang ku kira, hingga memaksaku untuk segera berteduh didepan aula mesjid Al-Furqon, seketika itu juga aku melihatnya. Sosok yang dulu begitu dekat denganku. Aku tak menyangka kita dapat dipertemukan ditempat ini. Ternyata dia adalah ketua pelaksana kegiatan kajian IDS. Senyumnya masih sama seperti dulu, ya senyumnya belum berubah. Pertemuan yang tak sengaja itu membuat aku bernostalgia kembali pada masa laluku, masa putih-abu abu. Saat masa itu, aku dan dia mempunyai hubungan yang terbilang cukup aneh mungkin, dan aku selalu ingin tertawa apabila mengingatnya.
Aku adalah gadis yang dilahirkan dari keluarga baik-baik. Aku SMP di pesantren, tetapi saat SMA aku masuk SMA Negeri terfavorit dikota ku, aku mengerti tentang istilah “pacaran” bahkan teman-temanku selalu bercerita tentang pacar mereka, tentang kegiatan mereka dan suka duka mereka, tapi entah kenapa aku tidak tertarik dengan istilah “pacaran” ataupun berpacaran bahkan punya pacar, karena memang keluargaku tidak mendukung aku untuk berpacaran seperti teman-temanku yang lainnya. Walau beberapa laki-laki yang katakan cinta padaku, aku tidak tertarik menerimanya..
Sampai suatu ketika aku sering sekali bertemu dengannya sosok yang membuatku bosan, saat MOS (Masa Orientasi Kampus) aku bertemu dengannya, dia begitu aktif kesana-kesini dengan jaket osisnya yang dilinting sesikut. “apasih sok gaya sok ganteng iuuwwhh”pikirku dalam hati. Begitupun saat acara maulid nabi dan pesantren kilat pun aku melihatnya selalu berbicara di depan mimbar. sampai teman-temankupun membicarakannya di dalam kelas. Saat itulah aku tau banyak tentang dia, namanya Aldo. Dia lulusan pesantren, dia masih lugu, ganteng, sholeh, pinter, pokoknya hampir perfect gitu deh (katanya).
Akhirnya kalender dikamarku ganti dan tanda bahwa sudah berganti tahun, aku sudah kelas XI dan aldo kelas XII di awal semester aku memang ikut rohis SMA, tetapi bukan aldo yang membuat aku masuk rohis, aku memang ingin memperbanyak ilmu agama lebih banyak lagi. Apalagi aku lulusan pesantren saat SMP, jadi di SMA ini aku ingin menambah pengetahuan agamaku lebih dalam lagi. Alhamdulillah karena aku jebolan SMP Islam, teman-teman banyak memperayaiku sebagai ketua pelaksana kegiatan Maulid Nabi di SMA. Mau tidak mau Aku menerimanya, walaupun sejak SMP aku belum pernah menjadi ketua pelaksana kegiatan apapun -_- ugghh
“Tenoneett tenooneett” handphoneku berbunyi nyaring sekali, saat itu pula aku membukanya, nomernya belum di save di handphoneku. “halo assalamu’alaikum, ini siapa?” “waalaikumsallam.. ini benar dengan hana?” “iya” ‘ditanya palah balik nanya ini orang’ gerutuku dalam hati “ini ka aldo na, tau kan?” “aldo yang mana ya?” kataku becanda. “aldo ketua rohis tahun lalu, jadi gini hana, maksud saya telpon ke hana itu ingin menanyakan rondown untuk acara besok, apakah sudah ada? Bagaimana hana? Tadi erna bilang katanya ada masalah dan belum jadi?” “hah? Uu..udah kok kak” ujarku kaget. “oh syukurlah kalo begitu bagaimana kabar keluarga dirumah?...bla bla blaa..” telpon berlanjut dari hanya keperluan menayakan rondown sampai ke pertanyaan cat tembok kamar -__-. Aku yang tak biasa telpon dengan lelaki merasa aneh, saat itu aku mengatakan bahwa sudah mengantuk padahal baru jam delapan malam, biasanya aku tidur juga jam sepuluh hehee.
Bermula dari telpon itu, kak aldo jadi sms aku setiap harinya. Ya seperti itu awalnya menanyakan organisasi, eh ujung-ujungnyaa WAK WAW -_-
Bahkan saat aku sedang duduk sendiri menjaga kursi bokingan teman-teman di kantin kak aldo menghampiri aku dan mengajakku ngobrol, ada saja pertanyaan dan obrolan yang bisa dia ciptakan, teman-temanku juga selalu menghindar dari aku ketika aku sedang ngobrol dengannya. Dan karena itu aku pun dikelas diledeki mempunyai hubungan khusus dengannya. “yaampun aku bosaan.. aku gak suka diledekin gini, dulu di pesantren enggak kaya gini! Pasti temen-temen akan dapet hukuman satu ayat hafalan surat kalo saling ledek antar teman. ‘mungkin ini bedanya sekolah pesantren dan negeri ya?’ pikirku.
Sungguh itu adalah malam yang gelap, tak ada bintang di langit, biasanya aku menemukan bintang walau hanya satu, kenapa malam itu begitu gelap, atau hanya perasaanku saja? Huuft. “assalamu’alaikum hana, sudah tilawahnya? Sudah berapa juz?” pasti kalian tau, itu sms dari siapa? YAP! Itu sms dari kak aldo. Dia sms sehabis maghrib dan aku balas jam 8 hehe. “wslam. Sdh. 1” aku balas sms begitu singkat dan telat “semoga dia mengerti bahwa aku sedang tidak mau diganggu”ujarku jengkel. Tidak lama kemudian handphoneku berbunyi dan kak Aldo telpon. “assalamu’alaikum hana? Hana kenapa?” kata kak aldo nyerocos
“....”aku hanya diam.
“Hana kenapa? Hana sehat kan? Hana baik-baik saja kan?” ujarnya lagi
“iya ada apa” ujarku ketus.
“hana kenapa kok balas sms nya seperti itu? Hana marah ya sama kakak? Kaka minta maaf” “hmmm..”
“dimaafin enggak kakak nyaa?”
“iya, udah ya”
“eh, sebentarr sebentarr hana, kaka mau bicara dulu sama hana”
“ya silah-kan!”
“jadi gini hana, kaka tidak pernah menemukan perempuan seperti hana, hana itu berbeda dari yang lain, hana itu seperti seseorang yang begitu istimewa yang dihadirkan Allah untuk kakak, semoga hana juga merasakan hal yang sama, kakak selalu mendo’akan hana dalam sholat kakak. Entah kenapa kakak begitu yakin bahwa hana adalah bidadari syurga yang dikirimkan Allah untuk kakak, walaupun kakak tau hana belum bisa menerima kakak dalam kehidupan hana, semoga hana menerima kakak ketika Allah memang mentakdirkan kita untuk bersama,....”
“hah? Aku gak ngerti kakak ngomong apa? Sungguh” dengan ekspresi wajah shyok!
“ehemm.. jadi gini hana, kakak yakin jika kita akan ditakdirkan untuk bersama, hana mau kan?” “maaf kak, aku gak mau pacaran”
“bukan hana, bukan pacaran, kita taarufan. Bagaimana? Hana mau kan?”
“emm.. hana gak tau caranya kak, hana bingung. Aduhh”
“jadi gini, hana dan kakak selalu mengingatkan dalam kebaikan, seperti ingatkan sholat tilawah, kita juga bisa sholat berjamaah bersama, bercerita semua masalah, agar kita dapat saling memahami antara satu dan lainnya, bagaimana?”
“mm..gimana ya? Hana masih bingung kak?”
“yaudah, kalo hana masih bingung gakpapa, kakak ngerti kok, asal hana dapat menerima kakak hadir mewarnai hidup kakak, kakak udah bersyukur banget, tapi resmi ya, hari ini kakak dan hana taarufan. Semoga Allah memudahkan ya”
“mm.. iya deh” ujarku yang masih bingung. Tapi entah kenapa aku meng-iya kan?
Hari berlalu, frekuensi sms aku dan aldo semakin sering saja. Sampai suatu ketika beberapa hari ini aldo tidak sms untuk mengingatkan makan, sholat, dll seperti biasanya, lantas saja aku kesal dengan perubahan tingkahlakunya itu, akhirnya aku marah pada Aldo. Aldo berkata bahwasannya aku tidak mandiri, dan manja tidak seperti dulu. Aku membantah bahwa yang dikatakan aldo itu tidak benar, akhirnya akupun menelponnya untuk bertanya dan menyelesaikan persoalan ini.
Lamunanku terhenti ketika acara kajian sudah selesai, astagfirullah.. apa yang aku pikirkan ya Rabb, aku tak mau memikirkannya lagi. Seketika itu pula ada yang memanggil namaku “hana..!!” akupun menengok dan ternyata itu “aldo? HAH? APA? ALDO?” “aldo manggil aku? Kenapa dia harus manggil aku? Euuhh” ujarku dalam hati. “hei naa..” sambil tersenyum aldo berada di depanku membuat aku sedikit mundur dan mengangkat wajahku yang sedaritadi menunduk. “wahh kemana aja kamu, kamu banyak berubah”. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. “kamu tuh, banyak banget berubahnya”
UDAH------- HAHAHA
Udah selesai ceritanya pemirsah, kan namanya juga cerpen cerita pendek -,-
Nb : cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat itu karena aku yang buat HaHa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Lanjutin dong han. nanggung bgt tau.
Posting Komentar