Rabu, 11 Februari 2015
Tersesat Ke Jalan Yang Benar
Bismillah..
Ketika aku melihat temanku yang hijrah dari jilbab pendek dan menerawang ke jilbab yang lebih syar’i. Aku jadi ingat kenangan masa awal perjuangan untuk memakai jilbab syar’i ini. Aku bukan lulusan pesantren manapun, dan bukan pula dari keluarga yang ngerti agama. Saat SMA aku masih sering mengenakan celana jeans dan hanya punya 3 rok. Rok sekolah dan rok lain, itupun rok pemberian tante, katanya sih “biar putri terlihat lebih anggun”.
Banyak hal berbeda yang aku rasakan saat memasuki bangku perkuliahan, terutama penampilanku. Aku yang dulunya memakai jilbab tipis menerawang itu seketika beralih memakai jilbab syar’i yang lebarnya melebihi sikut! Sampai-sampai teman-teman kelasku menganggap aku seperti ustadzah sholehah dan memanggilku dengan sebutan “umi” (sampai sekarang). Dalam hati aku selalu berfikir ‘yaa Allah aku baru sehari memakai jilbab ini, dan sudah dianggap seseorang yang begitu shalihah, padahal juz 30 saja aku belum hafal, banyak teman yang lulusan pesantren dikelas yang lebih pantas mendapat julukan itu, sedangkan aku? Pesantren saja belum pernah”. Sungguh maha baik Allah yang selalu menutupi dosa-dosa setiap hamba-Nya.
Aku telah terkurung di dalam penjara suci yang bernama “Daarut Tauhiid”. Aku yang dulunya bebas memakai apapun yang aku mau, yang bebas mengenakan model hijab-hijab yang dililit, diputer-puter itu bahkan hafal semua model hijab trend saat itu. Tapi sekarang, aku benar-benar seperti burung yang terkurung! Aku yang awalnya berada dalam keterpaksaan memakai jilbab lebar ini, untuk pertamakalinya aku melihat diriku sendiri seperti bukan aku yang sesungguhnya. Dengan jilbabku yang panjang ini, membuat aku tidak bebas bergerak. terkadang aku berfikir ‘apa yang terjadi denganku? Ya Allah apa aku sudah tersesat?’
Dan untuk pertama kalinya aku dipertemukan dengan guru kehidupanku, yaitu Aa Gym. Beliau mengajarkanku banyak hal, mulai dari kedisiplinan, ketabahan,mengenal Allah, sampai belajar kekuatan diri. Di penjara suci ini, untuk pertamakalinya mengenal apa itu hijab, ada ikhwan, ada akhwat. Awal mulanya aku sering tertukar mana ikhwan, mana akhwat. Sering bertanya “kalo perempuan itu ikhwan apa akhwat ya?”. Dan akupun belajar banyak istilah lain yang baru aku ketahui untuk pertamakalinya. Apalagi saat membiasakan diri untuk ngobrol dengan ikhwan dibalik kain haha.
Saat senang bisa mengenal bejibun orang-orang shalih dan shalihah yang hebat, saat merasakan indahnya persaudaraan karena Allah. Saat pertemakali sholat gak pake mukena. Ada pula saat diledekin penampilannya jadul lah, mau jadi istri ke-3 aagym lah, saat lewat dijalan dipanggil bu haji, sampai bapak pun selalu ngasih wejangan kalo teteh jangan ikutan aliran-aliran sesat ya. Dan saat-saat itulah aku harus mati-matian nabung buat beli jilbab lebar dan gamis.Aku Cuma punya jilbab putih lebar dan jilbab hitam yang tidak begitu lebar. Harga jilbab lebar paling murah itu 40ribu, kalo beli jilbab paris/yang tipis harganya cuma 10ribu. 4X lebih mahal harganya. Juga beli gamis yang harganya ratusan ribu, itu tidak mudah. Belum lagi kudu belajar bahasa arab dari nol, ngejar hafalan juz 30, ngapalin asmaul-husna, ngapalin surah Ar-Rahman dan surat panjang lainnya, belajar segala jenis Fiqih, sampai baca buku Sirah Nabawiyah yang tebelnya naudzubillah, semua itu butuh perjuangan. :’)
Bahkan di awal jadi santri, aku masih suka narik-narik jilbab dan paling sering dimarahin keamanan asrama “hana kamu jilbabnya kurang panjang” terpaksa balik ke kamar dan bongkar jilbabnya jadi lebih panjang lagi. Saat kabur-kaburan ke kosan temen karena bosen di asrama. Aktifitas selesai minimal jam 10 malem dan bangun harus jam 3 Subuh, Akibatnya pas kuliah sering tidur dikelas sampai dimarahin dosen, subuhan wajib ke masjid, saat buru-buru keluar asrama ketika waktu hitungan habis, saat harus selalu pake kaos kaki dan manset setiap keluar asrama, saat tidur berjamaah ketika kajian subuh berlangsung, saat harus ngantri buat mandi, saat rebutan makanan ketika ada makanan gratis, saat rebutan tempat buat dapet makanan gratisan pas senin-kamis, bahkan rebutan gak mau jadi imam pas sholat maghrib dan isya.
Saat aku menikmati setiap aktifitas yang aku jalani.. saat itulah aku mulai terbiasa dengan aktifitas itu.. dan yang terpenting adalah saat aku mulai terbawa arus menuju jalan yang benar. di awal perjalanan sungguh sulit, sangat sulit aku rasakan, tetapi percayalah.. ketika kamu berhasil melawan saat sulit dalam hidupmu, kamu akan lebih merasakan adanya masa indahmu. Saat diri ini menjadi lebih baik.. dan mulai berprinsip untuk tidak pacaran sebelum menikah, saat jatuh-bangun buat selalu istiqomah, saat sedang futur dan gak betah di asrama, saat kelelahan ngerjain tugas santri, tugas kuliah dan tugas organisasi, saat jenuh dan pengen keluar dari pesantren, semua udah dilewati..
Alhamdulillah.. episode itu menjadi cerita indah penuh makna..
Sekarang- aku bukan santri lagi, tapi kebiasaan baik itu masih menempel dalam diriku.. bisa karena terbiasa.. terbiasa melakukan hal baik, membuat kita bisa menjadi orang baik..
ini tentangku dan perjalanan hijrahku, kalian pasti memiliki cerita lain yang luar biasa juga kan? ^^
Ada yang mau berbagi cerita tentang kenangan pertamanya berhijab ?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
5 komentar:
Kak ini aku @ibadusan. hahaha ternyata santri ppm juga ngerasa ga betah jugaa. keren kak cerita hijrahnya
kak aku @ibadusan. hahaha ternyata ppm juga merasa jenuh di asrama. bagus kak cerita hijrahnya
Hana, mas bingung mau komentar apa, terharu bacanya. semoga istiqomah yah. ternyata hana luar biasa.
makasih @ibadusan hahaha, iya, kalo hana belum bisa berkata-kata dengan indah, jadi pake kata-kata seadanya yang menceritakan kehidupan
mas @cahlan haha.. iya aku mah apa atuh, baru hijrah pas mau kuliah aja wkwk"
Posting Komentar